"kami tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang terjadidi pemerintahan, yang kami inginkan hanya hidup makmur." seperti itulah sedikit gambaran tentang pemikiran masyarakat kelas bawah yang tingkat pendidikannya rendah, apalagi pengetahuan politiknya, jelas sangat kurang. apasebenarnya yang kurang dari setiap janji janji dan program kerja yang dibuat presiden ataupun wakil rakyat? yang kurang adalah jangkauan yang merata, untuk semua kelompok. petani di desa pun sering merindukan masa masa Presiden Soeharto berkuasa. Kenapa? Karena harga harga murah, kehidupan damai. ya, damai di bawah ancaman. partai politik tidak boleh tumbuh, pelanggaran HAM di mana-mana, ada juga hutang luar negeri yang meluber kemana-mana. Reformasi pun terjadi. Demokrasi berjalan seakan sempurna walaupun disana-sini masih banyak uang saweran beterbangan masuk kantong kantong warga. Apa masalahnya dengan demokrasi di Indonesia? suara orang yang memilih karena analisis, dengan suara orang yang memilih karena ngawur atau uang 20.000 itu dihargai sama, ya sama sama menyumbang persentase yang sama. ini sama saja ada sepuluh orang, 4 orang dari jawa dan 6 orang dari amerika yang disuruh memilih pilihan tulisan jawa yang tepat. 4 orang jawa ini pasti akan memilih pilihan berdasarkan huruf per huruf yang ditranslate ke tulisan latin. sementara orang amerika hanya memilih karena ngawur. seandainya orang jawa ini semua memilih jawaban A, sementara orang amerika 5 orang memilih B, dan satu orang tidak memilih, maka yang akan menang dalam suara mayoritas, yaitu jawaban yang salah. Sementara satu orang yang tidak memilih menyalahkan orang orang jawa yang sebenarnya memilih tepat, tetapi kalah dengan pilihan ngawur, dan orang ini disebut golongan putih. Jangan sampai hal ini terjadi di duniapolitik Indonesia.
Paskah kali ini, saya berusaha untuk pulang ke rumah. Selagi saya masih berada di wilayah yang dekat dengan kota tempat tinggal orang tusaya, Boyolali. Kemungkinan besar tahun ini saya lulus, dan mungkin juga paskah tahun depan saya berada di kota lain, yang jauh dari sini. Mungkin juga saya berada di negara lain, entah dimana itu. Terkadang saya berfikir, apakah sebenar-benarnya Tuhan itu nyaman berada dalam wujud manusia? Apakah Tuhan itu senang ketika harus menjadi sosok Yesus Kristus? Dengan semua kenyamanannya dalam balutan kekudusan dan kekuasaan yang lebih besar dari apapun, apakah sesungguhnya Tuhan merasa nyaman ketika harus meninggalkan itu semua? Jawabannya, mungkin tidak, tetapi harus dilakukan. Demi kita, demi cinta! Yesus saja waktu di taman getsemani berdoa : Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki...
Comments
Post a Comment