Skip to main content

Tertampar Pedasnya Mie Tapuk Salatiga



Pagi itu saya ada kuliah pukul 07.00 pagi dan selesai pukul 09.00. pukul 09.30 saya pulang ke rumah dan kampong halaman saya di Boyolali sambil memboncenggkan teman saya yang berdomisili di salatiga. Saya berencna mengunjungi salah satu tempat makan yang cukup terkenal terutama di salatiga.
Mie tapuk, itu nama tempat makan yang akan kami datangi. Saya penasaran dengan tempat makan ini semenjak teman saya sering bercerita tentang tempat ini.
Review ini saya mulai dari lokasi. Mie tapuk salatiga terletak di jalan cemara raya no 26, dekat kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan SMA Negeri 1 Salatiga. Kawasan yang ramai ini menguntungkan warung ini karena dekat dengan kos-kosan mahasiswa juga. Lokasinya pun sangat mudah untuk dicari, dari arah semarang menuju salatiga, di jalan diponegoro, jembatan penyeberangan sebelum UKSW belok kiri, lurus saja sampai ada tulisan mie tapuk di kanan jalan.
Nama warung ini juga cukup unik. Mie tapuk berasal dari bahasa  jawa yang artinya tamparan. Oleh karena itu saya sempat takut membeli di situ karena saya kira mau ditampar. Hehe..
Setelah masuk ke warung, suasana menjadi mencekam. Bukan karena angker tetapi karena bau cabai yang begitu menyengat. Setelah melihat menu, anda akan merasa terintimidasi, misalkan anda melihat level 1, mie + 3 cabe, selevel anak pre school, kata kata tersebut membuat kita akan tertantang untuk mencoba level yang tinggi. Saya akhirnya menjatuhkan pilihan ke level 4 dengan 15 cabai.
Setelah mie sudah sampai di depan mata, hidung sudah mencium bau cabai yang sangat menyengat dan menggugah selera, walaupun takut kepedesan. Dan ternyata benar, setelah saya makan dan merasakan mie level 4 itu, bibir saya terasa seperti terbakar dan kalau orang jawa bilang njontor. Gila, setelah selesai perut saya langsung merespon dengan indikasi perut terasa menghangat dan semakin lama semakin panas. Tetapi saya malah tertantang untuk mencoba menikmatinya lagi dan menjadi professor tapuk. Apa itu professor tapuk? Silahkan anda ke sana untuk mengetahuinya.
Dengan konsep yang cukup bagus, tempat makan ini recommended untuk kalian yang mencari makanan di salatiga, terutama kalian yang suka makanan pedas. Mie tapuk, njontore puooolll!

Comments

Popular posts from this blog

Esensi Paskah dan Hal Kekhawatiran

Paskah kali ini, saya berusaha untuk pulang ke rumah. Selagi saya masih berada di wilayah yang dekat dengan kota tempat tinggal orang tusaya, Boyolali. Kemungkinan besar tahun ini saya lulus, dan mungkin juga paskah tahun depan saya berada di kota lain, yang jauh dari sini. Mungkin juga saya berada di negara lain, entah dimana itu. Terkadang saya berfikir, apakah sebenar-benarnya Tuhan itu nyaman berada dalam wujud manusia? Apakah Tuhan itu senang ketika harus menjadi sosok Yesus Kristus? Dengan semua kenyamanannya dalam balutan kekudusan dan kekuasaan yang lebih besar dari apapun, apakah sesungguhnya Tuhan merasa nyaman ketika harus meninggalkan itu semua? Jawabannya, mungkin tidak, tetapi harus dilakukan. Demi kita, demi cinta!  Yesus saja waktu di taman getsemani berdoa :  Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini   lalu   dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki...

Bukan!

Maafkan aku, Menghujam engkau dengan tanya retorik                 Bukan aku tak paham sibukmu.     Bukan!                 Aku hanya ingin mereda bara rindu yang terik Maafkan aku Membebani gawaimu dengan pesan yang berbaris                 Bukan aku ingin menguras waktumu.     Bukan!                 Aku hanya ingin rinduku terasa terbalas lewat apa yang kau tulis Maafkan aku Menyebutmu dalam setiap semogaku                 Bukan aku memaksa kehendak Tuhan.     Bukan!     Aku hanya ingin Tuhan dapat mendengar lirihnya dan mem...

Karanganyar

Minggu, 12 Januari 2014, saya bangun dari tidur,seperti biasa, berangkat ke gereja pukul 05.30 WIB. rencana pukul 08.00 WIB berangkat ke Karanganyar, ya mengisi waktu libur. Saya memang suka mengunjungi tempat-tempat wisata, ya, bisa dibilang saya seorang backpacker pemula. Pemula?? Ya, karena saya baru menemukan passion dan teman untuk melakukan perjalanan backpacking waktu masuk ke perguruan tinggi. Apalagi saat SMK, orang tua pasti tidak akan mengijinkan saya untuk keluar kota atau backpacking. Orang tua saya memang termasuk protektif, walaupun saya kurang nyaman dengan perlakuan tersebut, tetapi saya bisa memahami apa yang diinginkan orang tua saya, terlebih karena saya seorang anak bungsu. Tapi setelah masuk kuliah, saya menemukan seorang teman yang memang senang backpacking. Setelah itu, saya jadi lebih sering main main ke luar kota, mulai dari Surakarta, Jogjakarta, Magelang, sampai ke Jakarta. Kembali ke bahasan awal, saya  pulang dari gereja pukul 08.30 WIB. Dan itu leb...