KEMISKINAN
ZIMBABWE
Latar belakang
Kemiskinan merupakan
suatu keadaan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan,
pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat
disebabkan oleh ketidakadaan kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap
pendidikan dan pekerjaan. Hal ini sudahlah menjadi sebuah masalah yang
menyelimuti berbagai jenis orang dalam pelosok dunia.
Kemiskinan itu
tersendiri terbagi menjadi dua kategori; “sangat miskin” dan “miskin”.
Orang-orang yang berada pada kategori “miskin” dan “sangat miskin” hanya
mendapatkan pendapatan kurang dari AS$1 per hari dan kurang dari AS$2 per
hari. Berdasarkan standar tersebut, 21% dari warga dunia berada pada
kategori “sangat miskin” dan masih lebih dari setengah penduduk dunia berada
pada kategori “miskin”.
Kemiskinan sudahlah
merajalela di berbagai pelosok dunia, terutama di benua Afrika. Kemiskinan di
Afrika bukanlah suatu hal yang baru, walaupun Afrika terkenal dengan kekayaan
dalam pertambangan emas, platinum dan berlian. 16 juta dari penduduknya masih
hidup di bawah garis kemiskinan dan 2,3 juta penduduk lainnya berisiko
mengalami kekurangan gizi.
Afrika merupakan suatu
benua yang luas, namun juga tandus dan kering, itulah salah satu penyebab
susahnya bercocok tanam bagi para warganya disana. Pertanian dan penghasilan
para penduduk Afrika bergantung pada curah hujan. Kemiskinan di Afrika juga
tidak berakhir akibat efek dari penjajahan yang dilakukan para penjajah
beratus-ratus tahun yang lalu. Hampir seluruh penduduk Afrika dijadikan budak
dan hanya sedikit dari mereka yang mendapatkan pendidikan yang layak.
A. Mugabe, sang diktator
Negara
Republik Zimbabwe adalah sebuah negara di Afrika bagian selatan. Negara yang
terkurung daratan ini (land lock) berbatasan dengan Afrika Selatan di sebelah
selatan, Botswana di barat, Zambia di utara dan Mozambik di timur dan timur
laut. Lahir sebagai Negara merdeka pada 18 April 1980. Setelah kemerdekaannya, Zimbabwe berada di
bawah Robert Muga. Presiden pertama yang telah berkuasa 30 tahun ini kemudian
menjadi sorotan masyarakat, tidak hanya di kawasan Afrika, namun juga di mata
dunia. Kasus yang muncul menyebutkan bahwa tokoh yang diharapkan dulunya
menjadi pahlawan bagi masyarakat asli Zimbabwe yang terpinggirkan, kemudian
malah berbelok menjadi rezim yang korup yang bahkan memangsa bangsanya sendiri.
Kelaparan merajalela, penyakit semakin mewabah, pelanggaran HAM, kondisi
ekonomi dan politik yang semakin parah menjadi potret buram Negara ini.
30 tahun
lalu, Robert Mugabe memberikan sumpahnya sebagai perdana menteri Zimbabwe.
Rakyat Zimbabwe menyambut ini dengan suka cita. Bertahun-tahun sebelumnya,
ketika Zimbabwe masih bernama Rhodesia, negara tersebut dipimpin oleh
pemerintahan minoritas kulit putih. Penindasan kaum mayoritas kulit hitam
ketika itu sudah biasa. Akhirnya penduduk kulit putih dan kulit hitam Zimbabwe
saling bertarung dalam perang saudara. Ketika perang ini berakhir dan Robert
Mugabe mengambil alih pemerintahan, orang melihatnya sebagai seorang tokoh
pembebas. Namun seorang wartawan dan penulis Afrika Selatan - Martin Meredith,
menyebutkan dalam tulisannya bahwa faktanya di tahun 1980an hubungan Mugabe dengan kaum kulit putih cenderung relatif
bersahabat. Setelah perang saudara selama tujuh tahun tersebut, Megube malah
berfokus kepada proses rekonsiliasi antara penduduk berkulit hitam dan penduduk
berkulit putih.
Selain itu, Ia telah
menyebabkan negaranya mengalami inflasi terbesar didunia. Diawali dengan 1000%
pada September 2006. IMF melaporkan bahwa total inflasi pada tahun 2006
mencapai 1216% dan mencapai 11000% pada Juni 2007 yang lalu.
Sejak
memerintah sekitar 23 tahun yang lalu Mugabe menerima gaji kurang dari $ 1
juta. Namun, pada beberapa tahun yang lalu Ia menaikkan sendiri gajinya hingga
1,000% ! Dengan gaji yang luar biasa tersebut Ia bisa membangun Mugabe's Palace dengan biaya mencapai 6 Juta Poundsterling atau sekitar Rp.108.000.000.000,-. Rumah tersebut memiliki 3 tingkat, office suite, 25 kamar tidur beserta kamar mandi, serta spa pribadi.
B. Krisis ekonomi Zimbabwe
Zimbabwe
dulunya merupakan salah satu negara makmur di kawasan Afrika, terbukti negara
ini pernah menjadi negara pengekspor pangan di regional Afrika. Namun, dalam
perkembangannya negara ini kemudian termasuk dalam kategori 10 negara termiskin
di dunia. Permasalahan dan konflik yang dihadapi Zimbabwe menjadi sangat
kompleks dan berkelanjutan. Mulai dari krisis ekonomi (hyper-inflasi,
kemiskinan), kekacauan politik (pemerintahan yang korup), hingga permasalahan
sosial (tingginya tingkat pengangguran, kesenjangan sosial, buruknya pelayanan
public-goods, tingginya tingkat frustasi hingga depresi warganegaranya).
Tingginya tingkat inflasi (hyperinflation), membuat
perekonomian negara tersebut mengalami kelumpuhan dan nilai mata uang dolar
Zimbabwe terus mengalami kemerosotan. Dapat dikatakan, kondisi perekonomian di
Zimbabwe benar-benar memprihatinkan. Uang tunai seperti tidak ada artinya. Masyarakat
lebih memilih untuk menggunakan kupon untuk bahan bakar sebagai alat tukar
dengan barang-barang kebutuhan rumah tangga dan furnitur. Bahkan para pedagang
eceran lebih memilih untuk menerima pembayaran dengan menggunakan kupon
dibanding mata uang lokal karena terjadinya devaluasi yang cepat terhadap dolar
Zimbabwe. Jatuhnya perekonomian negeri ini, dipicu oleh mismanajemen serta
perilaku pemerintahan / rezim yang korup. Negara itu selama 1998-2002 juga
terlibat perang dengan Republik Kongo, hingga menguras biaya ratusan juta dolar
Amerika. Situasi kian parah setelah Mugabe menerapkan program reformasi lahan
yang tidak tepat sasaran. Pada tahun 2000, Mugabe mengambil alih secara paksa
lahan pertanian petani kulit putih untuk didistribusikan ke petani kulit hitam.
Kebijakan ini menyebabkan 4.000 petani kulit putih kehilangan lahan. Di lain
sisi warga kulit hitam tidak memiliki persediaan benih, pupuk, dan bahan bakar
yang cukup. Zimbabwe terpaksa mengimpor biji pangan dari Afrika Selatan,
Zambia, dan Malawi. Sejak itu, ekonomi Zimbabwe terjun bebas. Ekspor pertanian,
khususnya tembakau, turun drastic. Sejauh
ini, kebijakan yang diambil pemerintah berkaitan dengan krisis ekonomi, belum
menghasilkan perubahan yang berarti. Seperti pada Agustus lalu, Bank Sentral
Zimbabwe memutuskan untuk meredenominasi mata uang dengan mengubah uang 10
miliar dolar Zimbabwe menjadi 1 dolar Zimbabwe atau menghilangkan 10 angka
nol. Hal ini dilakukan untuk membantu masyarakat
keluar dari hiperinflasi yang terjadi. Namun kebijakan ini masih belum mampu
menyelesaikan permasalahan inflasi yang ada. Karena masalah lain yang harus
dihadapi Zimbabwe yaitu berkaitan dengan kelangkaan arus dana masuk atau
investasi dari luar. Walaupun begitu, pemerintah Mugabe terus berkilah
bahwa krisis ekonomi ini terjadi karena tekanan dari luar. Mugabe menuduh
isolasi finansial yang massive yang dilakukan Amerika, Inggris, dan Uni Eropa
melalui ZDERA menjadi biang kerok tingginya inflasi negara itu. Menurut Mugabe,
melalui ZDERA, Amerika melakukan berbagai upaya ke Dana Moneter Internasional
dan lembaga keuangan lain untuk membatalkan kucuran utang buat Zimbabwe. Sanksi
ini diberikan karena Zimbabwe terlibat perang dengan Kongo. Ia bahkan menuding
Inggris berada di balik inflasi yang mengguncang negeri itu.
C. Mengatasi kemiskinan
Sebenarnya, kalau kita cermati, Negara Zimbabwe ini
tidak mengalami kemiskinan mutlak, tetapi lebih tepat kita sebut kesenjangan
social. Ini bisa dilihat dari kondisi ekonomi presidan Zimbebwe, Robert Mugabe
yang memiliki istana yang sangat mewah di tengah tengah kemiskinan rakyatnya. Bahwa kehidupan di masyarakat kadangkala tergambar seperti apa yang
terjadi dalam kehidupan di laut atau samudera. Kehidupan di laut selalu
terdapat ikan-ikan besar yang selalu memangsa ikan-ikan kecil. Ikan-ikan kecil
itu tidak bisa mendapatkan makanan, bukan karena tidak mau atau bisa
mencarinya, melainkan oleh karena ketakutan dengan ikan besar bahkan menjadi
mangsanya. Sebagai pilihan aman, mereka hanya mencari di wilayah-wilayah yang
tidak mungkin didatangi oleh ikan besar, sekalipun tempat itu sudah terlanjur
gersang, atau bahkan tidak tersedia makanan.
Kelompok ikan-ikan kecil tidak mendapatkan makanan, bukan disebabkan mereka tidak bisa mencarinya, melainkan karena kalah bersaing, dan bahkan justru dimangsa oleh ikan besar itu sendiri. Gambaran seperti itu juga terjadi dalam kehidupan manusia dan masyarakat terbuka seperti sekarang ini. Orang-orang miskin sebenarnya telah kalah dari berbagai persaingan dengan orang-orang yang kaya akses itu. Mungkin permasalahan-permasalahan ekonomi dan kesenjangan social di Zimbabwe ini dapat diatasi dengan pelengseran penguasa saat ini, dan menggantinya dengan sosok yang bias mengatasi hal ini, walaupun itu juga berisiko pemimpin selanjutnya juga terpengaruh dengan sikap Robert Mugabe. Upaya lain yang harus dilakukan adalah campur tangan PBB untuk turun tangan dalam mengatasi kemiskinan tersebut
Kelompok ikan-ikan kecil tidak mendapatkan makanan, bukan disebabkan mereka tidak bisa mencarinya, melainkan karena kalah bersaing, dan bahkan justru dimangsa oleh ikan besar itu sendiri. Gambaran seperti itu juga terjadi dalam kehidupan manusia dan masyarakat terbuka seperti sekarang ini. Orang-orang miskin sebenarnya telah kalah dari berbagai persaingan dengan orang-orang yang kaya akses itu. Mungkin permasalahan-permasalahan ekonomi dan kesenjangan social di Zimbabwe ini dapat diatasi dengan pelengseran penguasa saat ini, dan menggantinya dengan sosok yang bias mengatasi hal ini, walaupun itu juga berisiko pemimpin selanjutnya juga terpengaruh dengan sikap Robert Mugabe. Upaya lain yang harus dilakukan adalah campur tangan PBB untuk turun tangan dalam mengatasi kemiskinan tersebut
.
daftar pustaka
Comments
Post a Comment